Temu Alumni HI

Oke, ini satu lagi gawean HIMAHI, buat tanggal 29 Nopember esok di Aula Gedung C Kampus FISIP Dago… inginnya sih nulis yang panjangan dikit. Tapi berhubung saya baru pulang habis hunting foto di Jatinangor jam sembilan dan sekarang sudah sangat ngantuk (curhat colongan :p), Jadi saya copy-paste surel dari Ibu Ketua HIMA saja ya… eh, bukan plagiarisme kan?

Acara ini diadakan sebagai bagian dari rangkaian acara Symphonesia (lebih detil mengenai acara ini dapat dilihat di link di bawah) dan dalam rangka Dies Natalis jurusan Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran yg jatuh pada bulan November.

Dalam acara ini Akang – Teteh sekalian dapat membagi cerita tentang karir untuk lulusan HI UNPAD pada para fresh graduates, menampilkan bakat bermusik Akang-Teteh sekalian, bernostalgia kenangan-kenangan tidak terlupakan selama di kampus atau sekedar berbagi kebahagiaan dengan rekan-rekan selama kuliah dan seluruh keluarga besar Hubungan Internasional Unpad.

Dalam acara ini juga kami, HIMA HI, selaku panitia berharap agar momentum ini dapat dimanfaatkan oleh Akang-Teteh sekalian untuk membentuk Ikatan Alumni Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran yg telah lama diinginkan oleh kita bersama.

Kami selaku panitia sangat mengharapkan partisipasi dan dukungan demi terselenggaranya acara ini yang merupakan bagian dari rangkaian acara Symphonesia (info lebih lanjut tentang Symphonesia dapat dilihat di-link yang ada di bawah box ini).

Jika Akang-Teteh sekalian hadir pada Temu Alumni HI UNPAD, maka Akang-Teteh telah turut mendukung, tidak hanya acara Temu Alumni tapi juga, Symphonesia. Sebab dalam penjualan paket Temu Alumni selain terdapat tiket Temu Alumni juga terdapat sumbangan untuk Symphonesia.

Berikut kami tawarkan sejumlah paket pembayaran untuk Temu Alumni yang dapat dipilih sesuai keinginan Akang-Teteh sekalian.

Paket A :
Rp. 130.000
Kaos+Pin+CD (database+foto2 kenangan)+tiket Symphonesia+tiket temu alumni

Paket B :
Rp. 100.000
Pin+CD (database+foto2 kenangan)+tiket Symphonesia+tiket temu alumni

Paket C :
Rp. 95.000
Kaos+Pin+CD (database+foto kenangan)+tiket temu alumni

Paket D :
Rp.50.000
tiket temu alumni

*harga setiap paket termasuk donasi untuk Konser Budaya Symphonesia
**paket dapat dikirimkan jika Akang-Teteh berhalangan hadir

Pembayaran transfer ke rekening 
BCA : 5470192471 a.n. NIken Widowaty
BNI : 0074944272 a.n. astari rosmalina
Mandiri :131 0004639078 a.n. Fetty Asihta

Kami sangat berharap hal ini tidak mengurangi kesediaan Akang-Teteh sekalian untuk hadir pada acara Temu Alumni.
Dan kami tunggu kehadiran Akang-Teteh sekalian pada TEMU ALUMNI HI FISIP UNPAD…!

🙂

Sampai ketemu di sana, akang dan teteh sekalian!!!

Update (18/10/2008)

Ini garis besar time table acaranya:

12.30-13.00     REGISTRASI

13.00-13.30     PEMBUKAAN & SAMBUTAN

13.30-14.10       TALK SHOW “INSPIRING STORY”

Pembicara :

         Ferry Mursyidan Baldan (Anggota DPR RI)*

         Utut Adianto (Grand Master Catur Indonesia)*

         Irman G Lanti (UNDP Indonesia)*     

14.10-14.40       MENGGAGAS IKA HI UNPAD

14.40-15.30       RAMAH TAMAH, PEMUTARAN SLIDE SHOW, & ISTIRAHAT

15.30-16.30       HIBURAN+ PERSEMBAHAN ANGKATAN

          17.00        PENUTUPAN

Trus, kalo ada yang mau ditanya-tanya bisa langsung ke mel (Purwaningrum Maelany, ketua BPH HIMA saat ini yang ngga punya blog:p) No-nya: 08121967709

Nanti, mungkin, akan saya tambahkan lagi detail-detailnya… See ya!

1 Komentar

Filed under Acara HIMA

tentang Symphonesia

Ini ada tulisan dari blog tetangga tentang Symphonesia

=======

SYMPHONESIA: CARA KAMI BERCERITA TENTANG INDONESIA

 

Cerita apa yang kamu tahu tentang Indonesia?

Cerita tentang nyiur yang melambai di tepian pantai. Cerita tentang beragam motif batik yang mewarnai nusantara. Cerita tentang politisi yang berusaha saling mencekik di Senayan. Cerita tentang mahasiswa yang peduli bangsa. Cerita tentang, tentang apapun itu.

Apa yang kamu tahu? Apa kamu peduli?

Teman-teman saya di Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional Unpad mungkin tidak tahu terlalu banyak. Tapi mereka peduli. Karena itu, mereka menciptakan Symphonesia. 

Symphonesia, atau Symphony of Indonesia (entah kenapa harus pakai bahasa Inggris), sebagai sebuah konsep adalah usaha nyaris putus asa untuk mengatakan, “Mahasiswa juga bisa menari Sunda” (atau menari Saman, atau menyinden Jawa, atau berpantun Melayu, atau yang lainnya) Jadi, alih-alih mengikuti kesuksesan konser jazz yang banyak diadakan di kampus-kampus, mereka menciptakan rangkaian acara tematik di atas tonggak kecintaan pada Indonesia, terutama pada budayanya. Indonesia kita ini kaya! 

Ini bukan perkara mudah. Himpunan kami bukan organisasi dengan uang melimpah. Untuk membiayai acara yang lumayan besar ini (detail akan ditulis di bawah), teman-teman saya harus jumpalitan untuk mencari perusahaan yang mau dan peduli untuk menjadi sponsor. Sejak semester genap tahun kemarin, panitia sudah mulai menyebar proposal ke berbagai perusahaan: Bank Jabar, XL, Bank Indonesia, Nestle, Telkom, Pertamina, Unilever, Nyonya Meneer, Sido Muncul, dan lain-lain. Tapiiiii…. tidak ada yang bersedia menjadi sponsor. Waktu saya tanya ke teman yang divisi marketing Symphonesia, dia hanya jawab, “pusing aing

 

Untungnya, mereka bukan orang lembek yang gampang menyerah. Ditolak satu, buat mereka tinggal cari lagi seribu. Ditolak seribu… baru pikir-pikir sambil meraung-raung. Kalau ditolak terus sudah bukan sekedar”pusing aing” lagi soalnya. Alhamdulillah, setelah usaha keras sambil praktik diplomasi + negosiasi, sponsor perlahan-lahan bertambah. Sampoerna, indosat, sosro, TBI, ardan radio, pikiran rakyat bersedia menjadi sponsor. Dan, tiba-tiba ada donatur yang bersedia menambahkan dana dengan jumlah yang cukup besar bagi acaara ini. Keajaiban? Bagi saya itu adalah hasil kerja keras. Demi budaya bangsa, sedikit lelah bukan masalah.

Dana yang dibutuhkan memang belum terpenuhi semuanya. Tapi mereka tetap berusaha. Dan, biarlah saya berhenti membuat kamu semua bosan dengan uraian saya tentang acara ini. Yang paling tahu tetap panitia, saya hanya simpatisan yang sesekali nimbrung. Ini saya kutipkan deskripsi Symphonesia yang saya ambil dari Facebook:

 

SYMPHONESIA (Symphony of Indonesia) merupakan suatu rangkaian acara yang berlangsung pada :

Sabtu, 22 November 2008
at Klinik Padjadjaran Jatinangor
Bakti Sosial :
1. Sunatan Massal;
2. Donor Darah;
3. Pelayanan Kesehatan.

Minggu, 23 November 2008
at Simpang Dago, Riau & Lapangan Gazibu
Street Campaign : Bandung

Senin, 24 November 2008
at Jatos, Kampus Unpad Jatinangor & Dipati Ukur
Street Campaign : Jatinangor

Jumat, 28 November 2008
from Jatinangor to Bandung
Street Campaign : Konvoi & Parade Sepeda Onthel

Sabtu, 29 November 2008
at Sasana Budaya Ganesha (Sabuga)
terbagi menjadi dua sesi acara :

Session 1 : 08.30am – 12.00pm
Talkshow “a Challenge to Save Our Heritage”
Keynote Speakers :
– Albertina Fransisca Mailoa, Puteri Pariwisata Indonesia 2008
– Tisna Sanjaya, Drs., MSc., Budayawan Jawa Barat
– Huala Adolf, SH., M.Sc., Phd., Dosen Fakultas Hukum Unpad, Penulis Buku Hukum Kontrak Internasional
– Asianto Sinambela, Director for Trade Industry and Intellectual Property Department of Foreign Affair

+ Moderator : Iqbal Nurman, Jajaka Jawa Barat 2008

> HTM : Free

Sebagai bentuk nyata kepedulian SYMPHONESIA dalam membentuk kearifan lokal guna menjaga dan melindungi budaya bangsa akan diwujudkan dengan memberikan setengah dari keuntungan atau profit yang didapat jika acara ini berhasil ke :
Taman Budaya Jawa Barat
Jalan Bukit Dago Selatan No. 53 A
Bandung, 40135

Session 2 : 01.00pm – 11.00pm
1. Pameran & Pengumuman Pemenang Lomba Poster;
2. Pojokan Foto;
3. Bazaar “Jalangkung” (Jajanan Laris Ngabibita Ka Urang Bandung);
4. Konser
with Special Performances from :
– Maliq & D’essentials
– Mocca
– Sore
– Closehead
– Disco Ethnic Percussion
– Udjo Arumba (Saung Angklung Udjo)
– Harry Roesly Foundation
– Shinobi
– Newride
– 24 Hours Service
– Under My Pillow
– 1900 Yesterday
– The Moms Berdarah
– Natya Nataraja GGM (Bali Dance Performance)
– IPDN Culture Performances
– Saman HI Unpad
– UPBM Unpad
– Band Audisi

+ MC : Fitri Tropica

> HTM : Rp 30.000,- (include Fruit Tea Pouch)

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Selamat Lagi!!!

Kali ini HIMAHI UNpad mo ngucapin selamat buat temen-temen yang udah lolos seleksi International Student Festival In Trondheim (ISFiT), Sarah Budiyani (HI ’05) dan Purwaningrum Maelany (HI 05 sekaligus Ketua BPH HIMA)

Selain itu, teman kita di angkatan 2007, Solpamili Pratama (yang juga anggota Writers Guild) berhasil lolos jadi lima besar finalis Anugerah Herawati DIah.

Felicitation !!

Tinggalkan komentar

Filed under Ucapan Selamat

Bulutangkis bersama!!

Sampurasun!! [rampes!]

Di tulisan kali ini, saya mau sharing tentang salah satu kegiatan HIMAHI yang cukup aktif dilaksanakan: bulutangkis!!

Jadi, teman-teman, Departemen Olahraga yang di-kadep-i oleh Haji Demas F. Azwar [the haji is for real!!!] rutin mengadakan pertandingan bulutangkis persahabatan di GOR-belakang-Suzuki-yang-di-seberang-Pandawa… Untuk mencapai GOR ini agak-agak tricky. Pertama-tama kita harus menemukan Pustaka Pandawa, lalu di depan Pustaka Pandawa ada dealer Suzuki, terus di samping dealer tersebut ada gang yang mengarah ke belakangnya; nah di sanalah lokasi GOR-belakang-Suzuki-yang-di-seberang-Pandawa.

Acara bulutangkis ini rutin diadakan tiap hari Rabu mulai pukul 16.00 hingga pukul 20.00 WIB [terimakasih pada Sidi SIdik Permana, anggota DepOR yang rajin mengkoordinir acara ini]. Yang ikut, katanya, relatif banyak. Sayangnya, kebanyakan partisipan berasal dari angkatan 2005. Bagus memang, semangat teman-teman 2005 yang walau sudah tua masih rajin berolahraga. Tapi, takutnya saat angkatan 2005 lulus, tidak ada lagi yang mengisi GOR pada Rabu sore hingga malam datang.

Teman-teman 2006 dan 2007 [2002,3,4, dan 5 tenang ya… saya yakin kalian sudah pada sibuk skripsi :p], bagaimana? Ada yang tertarik untuk mengurangi tonjolan lemak di perut?

7 Komentar

Filed under Olahraga

To survive in today’s world, you need answer to the tough questions… “How can I make our planet more livable?

[Dikutip dari W. Raymond Duncan, Barbara Jancar-Webster, dan Bob Switky (2003) World Politics in the 21st Century. (New York et al: Longman. Halaman 1)]

Sudah ada yang nemu jawabannya?

7 Komentar

Filed under Uncategorized

Selamat dan SUkses!!! [dan lain-lain]

Selamat dan sukses buat teman-teman kami yang berhasil lolos diktum pertama Program KreativitasMahasiswa – Penulisan Ilmiah (PKMI) dengan karya yang berjudul “Penggunaan Strategic Marketing dalam Pembuatan Strategi Pemasaran Kawasan Ciwidey untuk Pemberdayaan Masyarakat dan Keberlanjutan Industri Pariwisata Sebagai Bagian dari Program Visit Indonesia Year 2008″ !!

Buat Mafaza (HI ’05), Fajar Baskoro (HI’ 05), Wirya Adiwena (HI ’05) dan Meydela Adinda (HI ’06), ditunggu karya-karya selanjutnya! 

Ngomong-ngomong, ada yang menarik dari komposisi anggota tim barusan. Dua anggotanya, Wirya dan DInda, juga adalah anggota dari Writers Guild HI Unpad. Sementara Mafaza adalah salah satu pelatih Writers Guild [Baskoro sendiri adalah Kepala Bidang Internal HIMAHI Unpad]. Guild ini dulu memang dibentuk untuk menyalurkan bakat anak-anak HI dalam bidang tulis-menulis, terutama tulisan-tulisan ilmiah. Jadi, saat ada anggotanya yang berhasil… wah, saya saja ikut merasa bangga 🙂

Semoga regenerasi prestasi terus berjalan!

1 Komentar

Filed under Ucapan Selamat

Bedah buku Alexander Wendt, “Anarchy is What States Make of It”

Hari Rabu kemarin, 2 Juli 2008, Departemen Kajian bekerjasama dengan dua alumni sekaligus pengajar, Pak Ari Margiono dan Pak Oce Ibrahim, mengadakan bedah buku. Buku yang jadi korban kali ini adalah karya Alexander Wendt yang terkemuka itu… “Anarchy is What States Make of It“.

Diskusi ini muncul karena keinginan dua alumni barusan untuk berbagi pengetahuan dengan kita-kita yang masih memperjuangkan IPK di kampus Jatinangor [kita?!]. Sedikit tambahan, setelah lulus dari HI Unpad Pak Ono melanjutkan studi ke Aberystwyth sementara Pak Oce ke Flinders, dua-duanya masih meneruskan studi tentang Hubungan Internasional. Anyway, keinginan itu, lantas, dilemparkan ke milis HIMA dan disambut oleh salah satu pengurus HIMA, Wirya Adiwena, karena ada semangat untuk terus belajar dari teman-teman lainnya. Dan, diskusi pun terlaksana dengan peserta sebanyak 25 orang.

Diskusi berjalan menarik.

Buku Pak Wendt memang sudah relatif lama. [diterbitkan tahun 1992]. Tapi, buku ini tetap membingungkan banyak orang selama lebih dari satu dekade. Bukan karena bahasa yang digunakan rumit, Alhamdulillah, Pak Wendt masih menulis dengan salah satu bahasa manusia. Buku ini menjadi rumit karena dalam konteks teori Hubungan Internasional, buku ini menghasikan kontradiksi. Untuk mencari pencerahan terhadap kontradiksi-kontradiksi dalam buku ini, diadakanlah diskusi…

Masih dalam kerangka tujuan mencari pencerahan, teman saya, Tia dan Ninu, mencatat jalannya diskusi. Terima kasih pada catatan mereka, saya berhasil melengkapi catatn saya [walau tetap terbatas] dan mengambil beberapa kesimpulan. Pertama, walau buku ini disebut-sebut sebagai peletak dasar social-constructivism, sebenarnya buku ini adalah enigma tersendiri. Bagaimana tidak, Wendt sendiri pada awalnya menyebut dirinya sebagai seorang realist dan positivist [baru pada buku Social Theory of International Relations beliau menyebut dirinya sebagai seorang social constructivist]. Jadi, dalam pengerjaan karya ini, dalam kepala Wendt masih terngiang ajaran Kenneth Waltz untuk merajuk ke Third Image; yaitu struktur internasional yang didasarkan pada tiga elemen: ordering principle, differentiation, dan distribution of material capabilities. Secara singkat konsep-konsep ini dapat dijelaskan sebagai berikut: tidak ada ordering principle di sistem internasional–berbeda dengan domestik–yang mengakibatkan terjadinya anarki; tidak ada differentiation tugas antara negara-negara yang mendorong mereka untuk bergerak berdasarkan prinsip self-help; terakhir, yang paling berpengaruh adalah distribution of material capabilities, yaitu kemampuan ekonomi, militer dan lain-lain.

Kedua, hal utama yang dilakukan oleh Wendt, menurut Pak Ono dan Pak Oce, adalah memasukkan konsep structuration milik Amthony Giddens ke dalam penteorian Hubungan Internasional. Implikasi penggunaan structuraton adalah perubahan pola pandang terhadap struktur Internasional. Waltz memandang bahwa melalui distribution of material capabilities interaksi, atau hubungan, internasional telah terbentuk secara obyektif. Bagi Wend tidak. Wendt tetap melihat third image, namun dia meletakkannya sebagai suatu hal yang dipengaruhi oleh identities dan interests.

Melalui keberadaan dua konsep inilah Wendt menolak tesis yang disampaikan neo-realist maupun neo-liberalist. Bagi kedua neo tersebut, anarki bersifat baku. Namun bagi Wendt, anarki akan selalu dipengaruhi posisi-posisi identitas dan interests dalam sistem internasional. Posisi identitas yang satu terhadap identitas lain akan menentukan interaksi yang terjadi. Misalnya, Amerika Serikat akan lebih waswas jika Iran memiliki senjata nuklir dibandingkan jika Kanada yang memilikinya. Karena Kanada adalah ‘teman’ Amerika Serikat; identitas A.S dan Kanada tidak saling bertubrukan.

Ketiga, walau Wendt menyebut dirinya realist, ternyata ia juga tertarik dengan tesis-tesis neo-liberalist. Hal tersebut terlihat dari keyakinan Wendt tentang dapat terjadinya cooperation under anarchy. Lebih lanjut, interaksi yang terjadi dalam sistem internasional dapat mendorong terjadinya konstruksi identitas lebih lanjut. Ujung dari konstruksi ini, bukannya tidak mungkin akan terjadi perubahan dari self-help under anarchy menjadi cooperation under anarchy. Tapi, walau terdapat irisan-irisan antara pendekatan neo-realist dengan pendekatan neo-liberalist, ‘Anarchy Is What States Make of It‘ lebih baik tidak dikatakan sebagai jalan tengah antara keduanya. Buku ini tetap menyimpan subyektifitas dengan menunjukkan kecenderungan-kecenderungan tertentu hingga menjadi terlalu ‘abu-abu’ untuk dikatakan sebagai jalan tengah.

Melihat kesimpulan-kesimpulan barusan, daripada Pengantar Hubungan Internasional ataupun Teori Hubungan Internasional, saya lebih teringat Pengantar Ilmu Politik. Ada satu kutipan yang saya kenal dari mata kuliah itu, milik David Easton, bunyinya kalau tidak salah:

Politics is about authoritative allocation of values

Mungkin, bagi Wendt, dunia Hubungan Internasional berisi hal yang serupa… endless struggle for allocation of values :p

P.S Kang Philips Vermonte, alumnus HI Unpad juga, menceritakan pengalaman saat beliau menghadiri konferensi dimana Alexander Wendt berkata:

I am no longer in the business of social-constructivism

Nah lho?

7 Komentar

Filed under Diskusi Kajian