Juli 4, 2008...6:18 pm

Bedah buku Alexander Wendt, “Anarchy is What States Make of It”

Lompat ke Komentar

Hari Rabu kemarin, 2 Juli 2008, Departemen Kajian bekerjasama dengan dua alumni sekaligus pengajar, Pak Ari Margiono dan Pak Oce Ibrahim, mengadakan bedah buku. Buku yang jadi korban kali ini adalah karya Alexander Wendt yang terkemuka itu… “Anarchy is What States Make of It“.

Diskusi ini muncul karena keinginan dua alumni barusan untuk berbagi pengetahuan dengan kita-kita yang masih memperjuangkan IPK di kampus Jatinangor [kita?!]. Sedikit tambahan, setelah lulus dari HI Unpad Pak Ono melanjutkan studi ke Aberystwyth sementara Pak Oce ke Flinders, dua-duanya masih meneruskan studi tentang Hubungan Internasional. Anyway, keinginan itu, lantas, dilemparkan ke milis HIMA dan disambut oleh salah satu pengurus HIMA, Wirya Adiwena, karena ada semangat untuk terus belajar dari teman-teman lainnya. Dan, diskusi pun terlaksana dengan peserta sebanyak 25 orang.

Diskusi berjalan menarik.

Buku Pak Wendt memang sudah relatif lama. [diterbitkan tahun 1992]. Tapi, buku ini tetap membingungkan banyak orang selama lebih dari satu dekade. Bukan karena bahasa yang digunakan rumit, Alhamdulillah, Pak Wendt masih menulis dengan salah satu bahasa manusia. Buku ini menjadi rumit karena dalam konteks teori Hubungan Internasional, buku ini menghasikan kontradiksi. Untuk mencari pencerahan terhadap kontradiksi-kontradiksi dalam buku ini, diadakanlah diskusi…

Masih dalam kerangka tujuan mencari pencerahan, teman saya, Tia dan Ninu, mencatat jalannya diskusi. Terima kasih pada catatan mereka, saya berhasil melengkapi catatn saya [walau tetap terbatas] dan mengambil beberapa kesimpulan. Pertama, walau buku ini disebut-sebut sebagai peletak dasar social-constructivism, sebenarnya buku ini adalah enigma tersendiri. Bagaimana tidak, Wendt sendiri pada awalnya menyebut dirinya sebagai seorang realist dan positivist [baru pada buku Social Theory of International Relations beliau menyebut dirinya sebagai seorang social constructivist]. Jadi, dalam pengerjaan karya ini, dalam kepala Wendt masih terngiang ajaran Kenneth Waltz untuk merajuk ke Third Image; yaitu struktur internasional yang didasarkan pada tiga elemen: ordering principle, differentiation, dan distribution of material capabilities. Secara singkat konsep-konsep ini dapat dijelaskan sebagai berikut: tidak ada ordering principle di sistem internasional–berbeda dengan domestik–yang mengakibatkan terjadinya anarki; tidak ada differentiation tugas antara negara-negara yang mendorong mereka untuk bergerak berdasarkan prinsip self-help; terakhir, yang paling berpengaruh adalah distribution of material capabilities, yaitu kemampuan ekonomi, militer dan lain-lain.

Kedua, hal utama yang dilakukan oleh Wendt, menurut Pak Ono dan Pak Oce, adalah memasukkan konsep structuration milik Amthony Giddens ke dalam penteorian Hubungan Internasional. Implikasi penggunaan structuraton adalah perubahan pola pandang terhadap struktur Internasional. Waltz memandang bahwa melalui distribution of material capabilities interaksi, atau hubungan, internasional telah terbentuk secara obyektif. Bagi Wend tidak. Wendt tetap melihat third image, namun dia meletakkannya sebagai suatu hal yang dipengaruhi oleh identities dan interests.

Melalui keberadaan dua konsep inilah Wendt menolak tesis yang disampaikan neo-realist maupun neo-liberalist. Bagi kedua neo tersebut, anarki bersifat baku. Namun bagi Wendt, anarki akan selalu dipengaruhi posisi-posisi identitas dan interests dalam sistem internasional. Posisi identitas yang satu terhadap identitas lain akan menentukan interaksi yang terjadi. Misalnya, Amerika Serikat akan lebih waswas jika Iran memiliki senjata nuklir dibandingkan jika Kanada yang memilikinya. Karena Kanada adalah ‘teman’ Amerika Serikat; identitas A.S dan Kanada tidak saling bertubrukan.

Ketiga, walau Wendt menyebut dirinya realist, ternyata ia juga tertarik dengan tesis-tesis neo-liberalist. Hal tersebut terlihat dari keyakinan Wendt tentang dapat terjadinya cooperation under anarchy. Lebih lanjut, interaksi yang terjadi dalam sistem internasional dapat mendorong terjadinya konstruksi identitas lebih lanjut. Ujung dari konstruksi ini, bukannya tidak mungkin akan terjadi perubahan dari self-help under anarchy menjadi cooperation under anarchy. Tapi, walau terdapat irisan-irisan antara pendekatan neo-realist dengan pendekatan neo-liberalist, ‘Anarchy Is What States Make of It‘ lebih baik tidak dikatakan sebagai jalan tengah antara keduanya. Buku ini tetap menyimpan subyektifitas dengan menunjukkan kecenderungan-kecenderungan tertentu hingga menjadi terlalu ‘abu-abu’ untuk dikatakan sebagai jalan tengah.

Melihat kesimpulan-kesimpulan barusan, daripada Pengantar Hubungan Internasional ataupun Teori Hubungan Internasional, saya lebih teringat Pengantar Ilmu Politik. Ada satu kutipan yang saya kenal dari mata kuliah itu, milik David Easton, bunyinya kalau tidak salah:

Politics is about authoritative allocation of values

Mungkin, bagi Wendt, dunia Hubungan Internasional berisi hal yang serupa… endless struggle for allocation of values :p

P.S Kang Philips Vermonte, alumnus HI Unpad juga, menceritakan pengalaman saat beliau menghadiri konferensi dimana Alexander Wendt berkata:

I am no longer in the business of social-constructivism

Nah lho?

& Komentar

  • Asw..
    Wahhh,,bung Wirya, saya tidak menyangka kalo implementasi hasil rapat kita bisa secepat ini… Bageuzzzz….T.O.P B.G.T dah!!!
    Senang deh rasanya HIMA HI Unpad bisa punya blog sendiri.
    Moga bisa jadi sarana komunikasi dan sosialisasi yang baik buat masyarakat HI Unpad baik yang masih kul maupun yang udah lulus, juga buat siapapun yang mo tau tentang HIMA HI Unpad.
    Setelah sebelumnya HIMA HI punya web site yang ternyata jarang dikunjungi tapi harus bayar, mudah-mudahan blog yang gratis ini, justru bisa rame kayak milis kita…hehe..
    Amin..

  • iya bu ketu, bagus..

    pake ada promosi pribadi segala pula. :D (baca: link k blognya Wirya Adiwena)

    hehe.

    bon courage, temen2 hima.. :)

  • wah.. kayaknya seru banget,,,,

    selamat yah ama web barunya…
    yg rame ya isinya ^_^

  • alhamdulillah, setelah sekian lama ingin mendengar penjelasan pa ono, akhirnya datang juga ke HI. bnr2 deh,,, jadi malu ama diri sendiri klo jarang baca buku2 HI.
    smoga blog ini banyak yang kunjungi, jadi rame kayak milis HIMA. oh iya, akhir tahun kita rencanain buat ngadain
    “diskusi dahsyaT”, pembicaranya P.J Vermonte, Ari Margiono, ama Pa Arry Bainus. 3 generasi, 3 pemikiran, dalam 1 topik bahasan,,, ayao kita adain yukkk…

    p.s : wir, tolong ya surat kalengan itu masih brlaku buu… secara masih ada aja surat2 yang datang ke sekre kita tercinta.,,, hehehehehe

    syukran

  • keren wir, ulasannya…cocok deh kayaknya kalo jadi reviewer..kalo bisa semua acara HIMA ada ulasan kaya gini, ato setidaknya diskusi2 kajian :) btw, semut2 di sekre HI itu sudah bisa diatasi ato belom? hehe….

  • Salam,
    Ya!..selamat! situs anda sudah ramai..buktinya? sudah ada nama saya di daftar komennya,,,
    Untung iseng2 masukin kiwerd: hubungan internasional unpad. Voila! baiklah, ulasan Wirya cerdas, menggigit! genit.. o ya, ntar [kalo inget] saya buat linknya di blog saya boleh?tapi pasang link juga ke blog sy di sini ya…hehehe. Selamat berkarya teman2 HIMA!
    info: ada diskusi tentang palestina di Parmad tanggal 23. pembicaranya penulis buku apaaaaa gt,lupa,hehehe.yg jelas kompeten bgt,ya.more infor?cb search di internet ya…

  • @anggalia
    jangan sebut merek teh. Tabu. Tapi kynya si wirya ga bakal jadi reviewer… di mah mo nguasain dunia dulu…

    @budi
    Kang?


Tinggalkan Balasan